PERMASALAHAN SISWA TERHADAP LITERASI NUMERASI
Oleh : Evana Purwagana Putri, Maulida Fitria, Titik Romandhonah
Pengampu : Nila Ubaidah, S.Pd.,M.Pd.
Sementara
kemampuan mempelajari matematika tidak hanya berhitung saja, namun juga
kemampuan bernalar yang logis dan kritis dalam memcahkan masalah. Pemecahan
masalah yang dimaksud disini adalah lebih kepada permasalahan yang dihadapi
sehari-hari, atau yang dikenal dengan kemampuan literasi matematika.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Programme for International
Student Assessment (OCED, 2018), kemampuan literasi matematika siswa di
Indonesia masih rendah dan berada di bawah rata-rata internasional.
Pengertian
literasi tidak hanya kemampuan membaca, tetapi kemampuan menganalisis suatu
bacaan, dan memahami konsep di balik tulisan tersebut. Sedangkan numerasi
berarti kemampuan menganalisis menggunakan angka. Literasi dan numerasi terkait
dengan kemampuan menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk,
baik berupa gafik, tabel, dan bagan, kemudian menggunakan interpretasi hasil
analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.
Permasalahan
dalam kehidupan sehari-hari yang sering dihadapi oleh siswa yaitu pemecahan
masalah yang berupa kesalahan dalam penyelesaian soal-soal. Yang mana siswa
terkadang lupa atau kurang terlalu paham dalam mempelajari materi yang
diberikan. Dalam kasus ini kami mencoba menganalisis dengan metode kualitatif
deskriptif yaitu upaya untuk mendeskripsikan analisis penalaran matematis
siswa. Metode ini dipilih bertujuan untuk menggambarkan kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal-soal penalaran matematika dalam soal operasi bilangan.
Berikut contoh kasus permasalahan dalam pemecahan soal yang sering dihadapi
oleh siswa.
PERMASALAHAN 1 :
Sandy
mengemas telur kedalam sebuah kotak, dimana setiap kotak berisi 6 butir telur.
Total telur yang dimiliki Sandy adalah 214 telur. Berapakah jumlah kotak yang
Sandy butuhkan untuk mengemas semua telur?
Jawaban siswa : 6 × (....) = Mendekati 214
Yaitu 36, jadi Sandy membutuhkan 36 kotak untuk
mengemas 214 telur yang setiap kotaknya berisi 6 butir telur.
Berdasarkan hasil jawaban tersebut, diarahkan untuk menemukan berapakah kotak yang diperlukan Sandy untuk mengemas telur tersebut. Dalam menyelesaikan soal ini siswa masih kurang dalam tahap generalisasi (pengamatan dalam soal). Dimana siswa masih kurang tepat dalam membuat dugaan berdasarkan fakta dari soal. Hal ini terlihat dari jawaban siswa yang mengalikan hasil tersebut untuk mendapatkan hasil 214. Selain itu siswa juga memiliki kemampuan penalaran yang rendah yang dipengaruhi oleh kurangnya siswa memahami konsep dasar dari materi tersebut. Hal ini terlihat dari hasil perhitungan siswa yang tiba-tiba menyebutkan 36 merupakan hasil perkalian yang mendekati 214, karena 6 × 36 = 216 yang mana 216 itu lebih dari 214. Dimana hasil perhitungan yang benar adalah menggunakan pembagian yaitu 214 : 6 = 35,6 karena pada soal yang ditanyakan adalah sebuah kotak maka 35,6 kita bulatkan menjadi 36 kotak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyelesaian siswa diatas belum tepat dalam menjawab soal.
PERMASALAHAN 2 :
Sebuah
bus diterminal mendapatkan 36 penumpang, perbandingan antara anak kecil dan
orang dewasa adalah 6 : 3. Berapakah jumlah anak kecil didalam bus?
Jawaban siswa : 6/3 × 36 = 72 anak kecil
Berdasarkan jawaban diatas, siswa diarahkan untuk mencari berapa jumlah anak kecil yang berada didalam bus jika diketahui total penumpang adalah 36 penumpang dengan perbandingan 6 : 3. Dalam menyelesaikan soal siswa masih kurang dalam tahap konjektur (membuat dugaan berdasarkan fakta) hal ini terlihat dari kesalahan siswa saat menuliskan perbandingan 6/3 yang seharusnya dituliskan 6/9. Dimana perbandingan 6/3 akan menghasilkan hasil perhitungan yang salah. 6/3 × 36 = 72 yang mana 72 akan melebihi fakta dari jumlah total penumpang pada soal yaitu 36 orang. Maka hasil perhitungan yang benar adalah menggunakan perbandingan 6/9 × 36 = 24 jadi jumlah penumpang anak kecil dalam bus adalah 24. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyelesaian siswa diatas belum tepat dalam menjawab soal.
Berdasarkan
hasil pembahasan diatas, siswa masih mengalami kesulitan dalam mengerjakan
soal-soal penalaran. Siswa mengalami kesulitan karena siswa belum dapat
menemukan cara penyelesaian serta cara untuk menarik kesimpulan yang tepat.
Kesalahan-kesalahan siswa disini mengacu pada kesalahan konseptual dan
prosedural. Kesalahan proseduran yaitu kesalahan konsep, fakta dan kesalahan
prinsip. Sedangkan kesalahan prosedural yaitu kesalahan dalam operasi hitung,
menyederhanakan pecahan. Selain itu siswa juga mengalami kesulitan dalam
mengambil dugaan berdasarkan fakta dalam soal yang menyebabkan siswa belum
mampu dalam memberikan argumen mengenai jawaban yang diberikan.
Untuk menumbuh kembangkan literasi numerasi sangat memerlukan pengetahuan matematika yang dipelajari dalam kurikulum sekolah. Namun demikian, guru harus mendesain materi ajarnya untuk hal itu. Dalam situasi nyata pembelajaran, guru perlu memberikan soal-soal HOTS secara berjenjang dari mudah ke sulit dan tidak terjebak dengan sesuatu yang segalanya harus “sulit”. Serta dalam mengatasi masalah tersebut, Sebaiknya guru menjelaskan dengan jelas dan siswa jangan malu untuk betanya. Guru juga memberikan penjelasan contoh soal dari yang mudah hingga soal hots, supaya peserta didik mudah dan paham dengan beberapa soal.
Komentar
Posting Komentar